Bukan aku tak ingin berbagi nasib, sebab nasib adalah kesunyian masing-masing. Olehnya, ku tampung semua duka ku sendirian. Bahkan pada bapak dan ibu, tak sedikit pun mereka mengetahui apa-apa yang telah aku lalui.
Aku tak ingin orang-orang kemudian ibah pada ku, pada hal-hal pahit yang aku jalani. Lebih baik, mereka menertawai semua hal menyedihkan yang aku alami, setidaknya mereka masih tetap bisa tertawa karena ku.
Dulu, Bapak pernah berkata. Tidak apa-apa, bila akhirnya berjalan sendiri tanpa orang lain. Tidak apa-apa bila akhirnya semua ketulusanmu berakhir menyedihkan. Tidak apa-apa sikap baikmu, kadang hanya di manfaatkan segelintir orang untuk mengambil keuntungan tanpa pernah mau peduli dengan hidupmu.
Bukankah, kata Bapak, hidup biarlah berbakti meski tidak dipuji.
Belajarlah banyak mendengarkan dari pada banyak bicara. Belajarlah untuk mengambil tindakan kecil dari pada sibuk menilai. Belajarlah untuk membantu, meski kadang kau sendiri sangat butuh bantuan. Dan belajarlah untuk meminta maaf dan memaafkan meski kadang kau terlihat rendahan.
Kata Bapak.
Apa gunanya semua pak? tanya ku.
Agar kita memahami dan mengerti mengapa banyak bicara tidak menyelesaikan apa-apa. Agar kita sadar tindakan kecil bisa mengubah sesuatu jauh lebih baik, dari pada sibuk menilai tapi tak melakukan apa-apa.
Sebab kita tahu, betapa diacuhkan dan tak punya siapa-siapa sangat menyakitkan.
Agar, kita memahami, meski minta maaf gampang, tapi tidak semua orang punya keberanian untuk melakukan itu. Dan tidak semua orang ikhlas dengan apa yang telah orang lain perbuat pada kita semena-mena.
Dan pada akhirnya, semua yang di katakan Bapak sangatlah berguna ketika aku akhirnya melalui semua tahapan kehidupan itu. Satu persatu dengan terus mengenang nasihat yang dulunya selalu aku abaikan.
Hingga akhirnya, keadaan buruk mengubahku menjadi lebih baik dari diriku sendiri yang sebelumnya. Pada akhirnya, mereka yang banyak tertawa, tumbuh dalam sunyinya sendirian dengan sangat tabah.

0 komentar:
Posting Komentar