Lihatlah, jutaan pilu dan kesedihan berceceran di jalanan. mereka sedang berjuang untuk pulang dan menemukan dirinya sendiri untuk mendapatkan kepercayaan atau doa-doa yang sempat hilang.
Aku tahu, kita semua juga pasti tahu. Tempaan dalam hidup manusia adalah bagian dari perubahan yang akan membawanya menjadi lebih baik. Aku tahu, kita semua juga pasti tahu. Jaminan untuk bahagia terlahir dari diri kita sendiri, dan selalu ada andil orang-orang terdekat untuk meraih itu.
Tapi mana, bagian dan andil dari orang-orang terdekat itu?
Di negeri yang katanya ramah dan murah senyum ini, semua orang yang datang dan berkunjung akan mendapatkan tempat ternyaman di muka bumi. Akan mendapatkan pelayanan terbaik, bertemu orang-orang baik, dan tentu akan selalu membawa banyak cerita menyenangkan saat pulang ke negara asalnya.
Tapi untuk apa, kalau semua itu tidak bisa membawa pilu dan kesedihan pada sebuah sembuh!
Sekarang lihatlah, kalau perlu gunakan hatimu untuk meresakannya!
Jutaan pilu terlantar.
Beberapa kesedihan yang memiliki keberanian lebih, sedang berjuang untuk sembuh seorang diri.
Sedang beberapa kesedihan yang ketakutan, memilih mengurung diri di dalam diam masing-masing. Sembari memandangi orang-orang yang tertawa dan saling bercerita lepas, bebas, tanpa sekat.
Orang-orang terdekat yang seharusnya menjadi tempat pulang untuk bercerita dan berbagi pelukan, telah dicuri oleh ego yang tak mengerti apa itu rasa sakit.
Malang sekali nasib kesedihan, tak ada tempat untuk berkeluh. Tapi semoga doa-doa kesedihan tetap sampai dengan selamat pada Tuhan.
“Untuk semua pilu dan kesedihan, maaf bila tak ada rumah yang nyaman untuk kalian mengaduh. Semoga Tuhan masih memberikan kita kekuatan untuk terus bertahan dan sembuh seiring dengan waktu yang akhirnya pasti berlalu. Untuk sementara, biarlah kesunyian dan doa-doa menjadi obat yang cukup untuk menyembuhkan semuanya. Pesan Ibu, bila nanti semua sudah sangat kacau, kembalilah pada pangkuannya seperti anak kecil yang belum mengerti apa-apa tentang hidup yang begitu luar biasa kerasnya”

0 komentar:
Posting Komentar