Pesan Ibu

Bu, di mana aku bisa mendapatkan kebijaksanaan?
Kata Ibu, pada hati nurani!

Bu, di mana aku bisa mendapatkan keikhlasan?
Kata Ibu, pada hati nurani!

Bu, di mana aku bisa mendapatkan ketulusan?
Kata Ibu, pada hati nurani!

Mengapa Ibu menjawab semua pertanyaan ku dengan satu jawaban yang sama?

Sebab, kata Ibu, hanya itu yang manusia miliki tanpa bisa terbayarkan oleh apapun. Dan hanya itu yang manusia miliki, meski rasa sakit tiada habisnya menikam.

Manusia, kata Ibu, selalu punya banyak cara picik untuk mendapatkan apapun yang ia inginkan. Manusia punya bekal akal untuk melakukan apapun. Tapi, sangat sedikit dari mereka yang bisa menggunakan hati nurani dalam melakukan banyak hal.

Pesan Ibu, bila nanti akal tak bisa menerima, mata tak bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah. Maka gunakanlah hati nuranimu, untuk mengambil keputusan apapun. Sebab, hati nurani tidak akan pernah menimang benar atau tidaknya sesuatu.

Lalu apa yang akan kita dapati Bu?

Kita akan mendapati, diri kita yang salah.

Mengapa salah Bu?

Karena kita sibuk menilai sesuatu, menakar benar salahnya sesuatu. Padahal yang kita sebut benar bisa jadi hanya keliru, dan yang kita sebut salah bisa jadi lebih benar dari kita.

Kata Jalaluddin Al Rumi, kebenaran itu bagaikan selembar cermin. Jatuh berkeping bagian, lalu masing-masing orang mengambil satu kepingnya, kemudian berpikir telah memiliki kebenaran seutuhnya.

Lalu pepatah bijak pernah berkata, bila mencungkil mata di balas dengan mencungkil mata. Maka seluruh dunia akan menjadi buta.

Pesannya, sibuklah menjadi bukan mencaci. Sibuklah berbuat baik bukan mencari kebaikan. Sibuklah untuk menjadi manfaat bukan memanfaatkan.

0 komentar: