Ku kira, rumah ini tidak hanya akan menjadi tempat ku lahir, tapi juga akan menjadi tempat pulang ku nanti. yang dari tiada, menjadi kembali tiada.
Tapi aku salah, ternyata, waktu memiliki rencananya sendiri.
Rumah yang dulu dibangun oleh Ayah penuh cinta, kini hanya menyisahkan kenangan.
Rumah yang dulu dibangun oleh Ayah penuh kegembiraan, kini hanya meninggalkan puing kesedihan.
Aku menjadi saksi, ibu yang harus berdiri seorang diri untuk mempertahankan apa yang telah ayah wariskan pada kami. Hingga akhirnya, harus mengalah, demi ini dan itu yang seharusnya tidak menjadi kewajaran bagi kami.
Kota kecil tempat ku tumbuh, kini telah berbeda. Dulu, ku sebut kota ini adalah rumah yang damai, hingga waktu merenggut itu. Istana kecil yang ayah bangun bercucur keringat, kini telah rata dengan tanah. Di atasnya, telah membentang berpuluh-puluh kilometer jalan beralaskan beton yang kokoh.
Orang-orang menyambut kegembiraan, suka cita, dan kebanggaan. Sementara aku yang roboh, hanya bisa membisu. Menjadi saksi, betapa waktu kadang tidak seperti yang kita mau.
Dan aku, akhirnya harus menerima. Sembari berharap, kelak, ingatan yang kita tinggali akan bertahan selamanya, di hati.
Penulis: Randi Ardiansyah

0 komentar:
Posting Komentar