Sore itu terasa biasa, senja yang biasa ku nikmati dengan harap dan haru, kali ini ku lalui bersama segumpal rasa cemas di hati. Sejak siang itu semua berubah jadi rindu yang renggang, sadar akan ego yang berlebih, membuat ku memilih diam dan mengalah.
![]() |
| Add caption |
Dengan bahasa setakut ini, aku memaparkan sejuta maaf atas sikap cemburu ku. Yang kau tanggapi dengan amarah seolah tak mengenaliku, "Aku tak pernah melarang mu untuk bersama perempuan lain, hey kau jangan egois" dan akhirnya aku tau siapa diriku, berarti? Saya fikir kita sama-sama tau jawabnya.
Aku berusaha memperbaiki keadaan, selalu setiap saat, bersama cemas dan tanya ku. Seperti biasa ketika kau marah, kau hilang tanpa jejak. Aku kadang berusa sabar di antara rintih hati yang selalu ingin tau akan mu, sadar atau tidak kau memperlihatkan ke tidak acuhan mu terhadap ku. Harus kah aku bertanya seberapa berharga aku bagimu? Aku rasa kita sama-sama tahu jawabnya.
Percaya, aku selalu berusaha memercayaimu dari puluhan percaya ku yang kau hiyanati. Aku selalu membuang rasa curiga yang berlebih, di antara sikap mu terhadap lelaki lain. Salah kah aku menaruh khawatir?
Lalu kali ini, semuanya terulang, lagi. Boleh kah aku bertanya? Atau inginkah kau bertanya, seperti apa hati ini saat ini? Aku lelah, hancur dan tiada berdaya. Aku bahkan tak memercayaimu lagi, suka atau tidak, itu urusanmu. Satu hal yang aku ingat darimu, yang rupanya kau langgar sendiri "Jangan terlalu dekat sama orang asing, sebab kita tak pernah tau hati seseorang itu", and that happened? I do not know!
Aku selalu sadar akan sikapku menjagamu yang terlalu over, aku tahu pada akhirnya kau akan berontak dan berlalu pergi. Tapi kau perlu tau, cara ku berbeda dari orang-orang, aku selalu ingin memastikan kau dalam keadaan baik-baik saja. Terlebih setelah kau jadi korban jambret, kau tau rasanya jadi aku?
Tapi sekali lagi, di antara ribuan rindu yang ku punya, di balik hebatnya rasa peduli ku terhadapmu, di antara hebatnya cinta ini, aku selalu berusaha menjadi yang kau mau, berusaha sebisa mungkin menjaga percaya dan kasih mu. Sadar atau tidak, aku selalu berusaha menjadi hero bagimu.
Dan kali ini, dengan bahasa setakut ini, dengan sejuta harap ku yang kelak pasti ku sesali. Aku ingin melepaskan jeratmu, tak ada lagi kekang bagimu, sudah selayaknya kau menjalani kehidupanmu, kau berhak atas itu, maka "Kembalilah Kau dari Tiada 'Cinta' Ke Tiada".
Penulis: Randi Ardiansyah


1 komentar:
Biarkan iya bebas dengan hidupnya, sebagai iya tak pernah ada dalam hidupmu. Ikhlas lah, maka semua akan baik-baik saja.
Posting Komentar