"Menelisik Drama Penyanderaan 10 ABK Asal Indonesia"
Suryansyah |
KENDARI - Cuaca Kota Kendari begitu cerah dengan langit biru dan awan putih yang berarak, sejak pukul 14.00 wita, Selasa 3 Mei 2016. Sekelompok jurnalis telah berkumpul diparkiran Bandara Halu Oleo, hari itu suasana Bandara nampak berbeda dari biasanya.
Selain keberadaan sejumlah jurnalis, juga tampak terlihat rombongan keluarga yang nampak dengan begitu gelisah bercampur resah tengah menanti kedatangan seseorang di pintu masuk ruang VIP Bandara. Pukul 16.30 wita, pesawat Lion Air jenis JT 994 yang bertolak dari Jakarta tiba di landasan udara Halu Oleo, bersamaan dengan itu rombongan keluarga yang saya temui tadi berbondong-bondong memadati pintu masuk raung VIP dengan pengawalan dari sejumlah petugas bandara.
Dari dalam sana, ruang VIP, seorang pria berkulit putih dengan menggunakan kemeja putih lengan panjang serta sebuah topi menutupi wajahnya, rupanya tengah berjalan keluar dengan di apit dua orang pria. Spontan jeritan suara tangis, haru beradu di tengah kerumunan manusia menyambut kedatangan Suryansyah (34) Anak Buah Kapal (ABK) KT Brahma 12 yang menjadi korban sekap kelompok militan Filiphina Abu Sayyaf.
Yah, Suryansyah dengan begitu tenang, langsung menuju sebuah mobil toyota avanza yang sudah menantinya sejak 3 jam lalu. Iya pun naik dan langsung di bawah ke rumah kedua orang tuanya, di jalan Taman Seropati, Kecamatan Mandonga, Kota Kendari, untuk mengikuti prosesi syukuran. Setibanya dirumah orang tuanya, suasana pun kembali pecah, puluhan keluarga menyambutnya dengan tangsian bahagia serta syukur atas kepulangannya.
Masih di hari yang sama, sekitar pukul 21.30 wita, saya bersama satu orang rekan saya berkunjung ke kediaman Darwin Lalu orang tua Suryansyah. Dari kejauhan suasana rumah Darwin Lalu nampak masih begitu ramai di kunjungi oleh sanak keluarga, kerabat maupun tetangga. Disana kami di sambut oleh Darwin Lalu yang kemudian di pertemukanlah kami dengan Suryansyah yang rupanya begitu ramah, meski dengan kondisi fisik yang begitu lelah setelah melakukan perjalan dari Filiphina, Jakarta hingga akhirnya tiba di Kendari.
Sekilas, saya melihat kondisi pisikologi Suryansyah nampak baik-baik saja, tak ada tekanan atau pun trauma mendalam yang di alaminya. Kami pun mencoba berbaur dengannya, hingga mencoba memintanya bercerita lebih jauh lagi, tentang kondisi dan kronologi drama penyanderaan yang dialaminya bersama 9 orang rekannya.
Dengan tawa kecilnya, Suryansyah pun menceritakan semua hal yang dialaminya selama 36 hari bersama kelompok Abu Sayyaf. Masih jelas dalam ingatannya, bagaimana kondisi kapal yang di nahkodainya berlayar dari Sungai Puting, Kalimantan Selatan menuju ke Batangas, Filipina selatan. Hingga akhirnya situasi berubah menjadi mencekam, setelah di bajak oleh kelompok Abu Sayyaf.
Jumat 25 Maret 2016, sekitar pukul 15.00 waktu setempat, saat posisi kapal berada di wescanel perbatasan antara Malaysa dan Filiphina, dirinya yang kala itu masih tertidur pulas di dalam kapal setelah usai lepas tugas mengecek kondisi mesin kepal. Tiba-tiba di bangunkan oleh salah seorang rekannya, yang mengatakan jika kapal mereka di hampiri oleh seorang pria yang mengaku sebagai polisi.
"Saya tanya siapa yang naik, temanku ini bilang kayaknya polisi. Kalau tidak salah dia pake baju kaos warna hitam dan ada tulisan PNP (Police Nasional Piliphin), nah semua kita di bangungkan untuk kumpul diatas sama tiet enjin Suryanto. Dia bangungkan, dia bilang bass mungkin ada polisi, terus saya di suruh bangunkan Kepala Kamar Mesin (KKM)" ucap Suryansyah.
Setelah seluruh awak kapal di bangungkan, mereka pun lalu berkumpul di anjungan kapal. Tidak berselang lama, sebuah speedbot berwarna hitam langsung merapatkan diri dilambung kanan kapal yang disusul dengan kemunculan sekelompok pria bersenjata lengkap dan langsung menodongkan senjata.
"Sebelum dia menempel di kapal, dia teriak dulu. Dia bilang police, sambil tunjuk galon kosong yang dia pegang seolah olah habis. Tapi kita tetap jalan dan akhirnya mereka mepet. Cuman satu orang saja yang pake baju PNP, ada sekitar 10 orang kalau nda salah, wajahnya di tutup pake topeng yang kayak cadar dan di jidadnya tertulis Lailaha Illawlah, kalau tingginya sekitar 160 kayaknya" ingatntya.
Tak banyak yang dilakukan oleh Suryansyah bersama seluruh rekannya di tengah situasi yang sangat mencekam, mereka pun hanya terdiam bingung dan pasrah. Di bawah todongan senjata, mereka lalu di paksa untuk duduk di lantai, setelah di paksa duduk mereka pun akhirnya di ikat.
"Mereka sempat bertanya You Now Abu Sayyaf? Tapi kita bilang tidak. Habis itu mereka bertanya ini Malaysa, tapi saya punya kapten bilang bukan kami Indonesia. Terus mereka bilang lagi itu kamu punya fligh bendera Malaysa, tapi kita bilang bukan, kami indonesia, itu hanya negara saja lewat. Mungkin salah sasaran, tapi mereka bilang, walau pun kita salah sasaran, sekali kita pegang tidak akan kita lepas" ungkapnya
Selanjutnya para perompak melakukan penggeladahan di dalam kapal, selang beberapa jam kemudian, KKM KT Brahma 12 mencoba melakukan negosiasi dengan pihak perompak. Dengan menggunakan bahasa inggris KKM meminta agar ikatan mereka segera di lepas, dengan jaminan tidak akan melarikan diri atau pun melakukan perlawanan. Alhasil permintaannya pun di setujui, dengan catatan jika mencoba melarikan diri maka mereka akan di tembak.
Sekitar pukul 02.00 wita dini hari, mereka pun tiba di salah satu pulau kosong. Disana para ABK langsung dijemput oleh sekelompok pria bersenjata dan dinaikan ke 3 perahu berbeda untuk selanjutnya dibawa ke Pulau Sulu, dengan perjalanan dari pukul 02.00 hingga pukul 15.00 waktu setempat. Di pulau tersebut, rupanya telah menanti ratusan orang bersenjata lengkap dengan pakaian jubah hitam yang menutup wajahnya yang berdiri berjejer di sepanjang bibir pantai.
"Pokoknya kita sudah pasrah itu di situ, kita sudah pikir wah kita sudah mati ini di sini sudah tidak bisa pulang lagi. Selama kami bilang kami tidak akan lari, akan ikuti mau mereka, mereka sudah tidak kasar. Sampai di pulau itu kami langsung jalan beriring berbaris, kami juga sudah tidak tau mau kemana itu. Tidak ada, mereka ngomong itu kami tidak mengerti sama sekali, murni bahasa sana kayaknya" tuturnya.
Senin, 28 Mei 2016 sekitar pukul 09.00, terjadi kontek telepon antara pihak Abu Sayyaf dengan pihak perusahaan tempat Suryansyah bekerja. Ada cerita menarik dari balik penyanderaan yang di alami 10 orang ABK ini, mulai dari hari ketiga mereka berada di pulau Sulu hingga detik detik mereka akhirnya di bebaskan dan di pulangkan.
Surnyasnyah pun kembali mencoba menceritakan kejadian itu secara detail. "Perlakuan itu yah di jaga seperti biasa saja, tidak ada todongan senjata. Kami tetap berada di tengah, mereka kelilingi kami. Tidak ada todongan senjata, karena si orang melayu itu bilang kalian ada disini kami jaga, insya allah kami jaga. Kalau kalian ada celaka, kami malu sama orang indonesia, kami tidak mau tambah musuh" katanya.
Hari ke empat di pulau Sulu, 10 ABK ini mulai berbaur dengan kelompok Abu Sayyaf, meski hanya dengan bahasa tubuh. Seminggu berlalu, interaksi antara kedua pihak mulai mencair, mulai dari sekedar menanyakan waktu makan, di beri rokok hingga duduk bersama menikmati api unggun. Suryansyah mengaku dirinya tidak pernah merasakan stres selama berada disana, mereka mendapatkan perlakuan yang sangat manusiawi.
"Ditanya juga bilang sholat, kita jawab sholat. Dari kapal pertama mereka tanya, dia bilang muslim semua. Kita jawab semua muslim, tapi ada tiga orang teman kita ini nasrani tapi mengaku muslim. Tapi setelah di geledah kapal, mereka dapat kitab nasrani dan kalung. Pertama sih para perompak ini agak marah, tapi habis itu mereka bilang, kalian bertiga nasrani no problem. Tapi kita bilang mereka ini mualaf, tapi perompak bilang iya iya saja" ujarnya.
Suryansyah pun bahkan di ajari bahasa Piliphin oleh kelompok Abu Sayyaf, sepeti Kumaun artinya makan dan Tubing yang artinya air. Sebulan berlalu, belum ada kejelasan terkait pembebasan Suryansyah bersama rekan-rekannya. Meski dilanda rasa cemas dan stres, namun nyatanya kelompok Abu Sayyaf malah memberikan dukungan moral kepada Suryansyah dan lainnya untuk tidak stres. Bahkan kelompok Abu Sayyaf pernah berkata kepadanya, "Tidak usah susah, tidak usah stres. Kalau pun tak ada uang tebusan dari negara kalian. Kalian pasti akan kami bebaskan, hanya waktunya kami tidak tau kapan. Kami hanya butuh uang, kalian tidak sangkut pautnya dengan kami" jelas Suryansyah memperagakan ucapan kelompok Abu Sayyaf.
Di samping itu, pihak Abu Sayyaf juga semakin rutin melakukan negosiasi dengan pihak perusahaan tempat Suryansyah bekerja. Awalnya pihak perusahaan tidak mempercayai jika kapal KT Brahma 12 menjadi korban sandera kelompok Abu Sayyaf, hingga akhirnya pihak perusahaan meminta bukti foto dan vidio kondisi terakhir 10 ABK kapal yang kemudian di penuhi oleh kelompok Abu Sayyaf.
"Mereka minta uang, pertama itu sudah nego di kapal itu. Kapten di panggil di bawah, di tanya berapa uang, katanya 150 juta peso. Terus nego nego di bawah, sempat sampai 100 dan akhirnya sepakat 50. Mereka bilang begini, saya datang kesini ambil kalian hanya untuk minta uang. Jadi setiap habis menelpon mereka selalu kasih kabar kita, katanya besok pulang, tomorrow. Karena kita sudah bosan dengar, makanya kita bilang juga tomorrow-tomorow terus" katanya
Tanggal 25 April 2016, tiga orang warga Canada di eksekusi mati oleh kelompok Abu Sayyaf. Suryansyah sendiri mengatahui kabar tersebut, dari orang-orang Abu Sayyaf yang mengatakan jika Canada telah di penggal, dari kabar yang berkembang yang di dengarnya, jika proses negosiasi yang berbelit-belit serta permintaan yang tak kunjung di penuhi menjadi pemicu eksekusi.
Sementara itu, tersiar kabar kelompok Abu Sayyaf juga telah memberikan ultimatum kepada pemerintah Indonesia, jika tidak segera memberikan uang tebusan sebesar 50 juta peso, maka 10 ABK KT Brahma juga akan segera di eksekusi. Namun faktanya, Suryansyah bersama 9 orang rekannya tidak mengetahui hal tersebut. "Ah kita tidak pernah dengar itu, kita baik baik saja disana. Kita tidak pernah di ancam"
Minggu 1 Mei 2016, sekitar pukul 08.00 waktu setempat, 10 ABK ini di bangunkan oleh kelompok Abu Sayyaf yang berkata go home atau pulang. Namun lantaran sering mendapatkan janji, Suryansyah tidak percaya dengan perkataan itu. "Tidak lama kapten bilang siap siap kita pulang, perasaan saya biasa-biasa saja waktu itu. Soalnya sudah sering janji mungkin, kita itu percaya kalau sudah ada yang jemput. Setelah itu kita dibawah ke pantai di suruh naik ke perahu, dari dalam hutan ke pantai sekitar setengah jam, di pantai sudah ada satu perahu dan kita naik di situ sama 4 orangnya Abu Sayyaf yang kawal kita"
Sekitar 4 jam perjalanan dari pulau Sulu ke Holo, mereka akhirnya di satu perkampungan warga. Disana Suryansyah dan 9 orang rekannya dinaikkan ke atas truk berwarna kuning, sebelum meninggalkan dermaga tersebut. Ada moment yang menarik sesaat sebelum merekan naik ke truk, 10 ABK ini dan 4 orang kelompok abu sayyaf sempat melakukan perpisahan dengan cara berpelukan dan bersalaman layaknya kerabat yang hendak berpisah.
"Dari situ kita dibawah ke lokasi penjemputan pertama untuk selanjutnya berganti truk, trus wawancara sebentar dan di suruh naik lagi. Di situ ada yang bilang nanti sampai pom bensin kalian di turunkan, di sana kami di suruh cari rumahnya gubernur. Kami di antar pake mobil, begitu kita turun mobilnya langsung lari. Kalau di rumah gubernur kami hanya ketemu dia sama anak buahnya, setibanya di rumah gubernur kita langsung di jamu makanan dengan gubernur Jolo, tidak ada orang Indonesia" tambahnya.
Usai menggelar makan siang di rumah Gubernur Gubernur Sulu Abdusakur Toto Tan (II), mereka lalu di bawah menuju markas tentara untuk di lakukan cek kesehatan dan kondisi. Dengan menggunakan dua unit Helikopter, mereka kemudian terbangkan ke Sambuaga. Disana mereka kembali menjalani cek kesehatan, setelah itu di bawah ke suatu ruangan untuk di lakukan penyelidikan.
Sekitar pukul 20.00 waktu Piliphim, 10 ABK ini pun di jemput oleh anggota DPR Viktor Lais serta satu orang KBRI dan pihak Perusahaan kapal KT Brahma 12. Dari Piliphin mereka bertolak menuju Balikpapan, Sepinggan untuk melakukan pengisian bahan bakar setelah itu ke Jakarta.
"Sampai di Jakarta kami langsung di bawa ke rumah sakit pusat angkatan darat, periksa kesehatan lagi. Habis itu di bawa kehotel, hari Senin tanggal 2 Mei, kami di bawa ke gedung pancasila, tapi sebelum itu kami sempat ke kantor pusat ngobrol-ngobrol sama Komisaris Perusahaan dan di suruh usahakan selasa pulang" tutupnya.
Penulis: Randi Ardiansyah

0 komentar:
Posting Komentar