Mungkin seperti itulah kita, kau itu seperti nyeri yang sampai saat ini terus ada dan merasa paling abadi. Kau adalah kesedihan yang sudah seperti selingkuhan, harus pintar-pintar kusembunyikan. Kau layaknya kenangan yang serupa tangan, setia memeluk kepalaku saat ngantukku tersesat disuatu malam.
Tapi kau tetaplah kau, seorang kekasih yang terbuat dari khilaf dan perpisahan tanpa wujud maaf. Kau tetaplah kau, bagaimana pun perihnya aku. Kau tak pernah bersalah, atas luka ku, duka ku, kecewaku, atas apapun yang mengatasnamakan aku. Biarlah semua ini yang bertanggungjawab adalaha aku. Bahagia, tugasmu hanya itu, biarlah luka ku di sembuhkan oleh waktu begitu juga dengan rindu.
Namanya Fere. sempat hilang dalam ingatan. Namun hadir kembali, setelah rindu menjalar hingga ke alam tidur ku. Entah apa yang mengantarnya ke sana, dari balik sadar ku tertidur. Lalu setelah saya tersadarkan dari nyenyaknya pagi tadi, perasaan cinta itu pun kembali bersama peduliku serta rinduku untuknya. Sesak, rupanya aku kalah oleh perasaan ku sendiri, aku terjebak oleh cinta yang tak pernah untukku.


0 komentar:
Posting Komentar