Letihku Membuncah, Pada Asa yang Tiada Nyata




Bisu? Entah apa yang telah terjadi bersama diamku.
sakitku seakan tiada habisnya, mungkin ini cobaan.
yah, mungkin saja.
tetapi, mungkin juga ini hukuman atas cobaanku.

lalu semilir angin menderu, menghempas segenap pembisuanku yang berlutut bersama sepiku disini.

Letihku membuncah, pada asa yang tiada nyata.
Merambat kedamaian malamku.

apalagi ini, perkara macam apalagi ini, bukankah telah ku relakan sesuatu yang dulu kusebut cinta, bukankah telah ku relakan segenap pengharapanku yang hilang disana entah kemana?

lalu sandiwara macam apa lagi ini, pertunjukan apalagi yang akan ku saksikan. bukankah letih ku bertahan telah terobati atas ihkalsku?

lalu mengapa pesakitan masih disisi, mengapa pilu masih senantiasa mengingatkan, trauma masih menghantui?

lalu bersama sepi malam itu, telah ku katakan.
"aku mungkin lebih baik sendiri bersama pedih, pilu, sepi, dan mungkin penyesalanku,".

Lalu dalam doa ku, saat aku melibatkan Tuhan dalam semua impianku. Aku percaya, tiada satu hal yang tidak mungkin.

0 komentar: